Post minggu ini ada kaitan dengan post – post aku sebelumnya, seperti: Be Happy, Bersyukur, Overthinking. Post kali ini aku beri judul Self-Love. Sedikit clue post hari ini merupakan hasil dari sedikit perenungan yang aku lakukan setelah bisa merayakan hari kelahiranku di tahun ini, sebuah moment yang harus disyukuri karena masih bisa merayakannya kembali. Memasuki umur 25 tahun, 26 tahun atau seperempat abad, umur tersebut related dengan quarter life crisis yang digaungkan pada beberapa tahun terakhir. Emm..
Mungkin karena sugesti atau mungkin memang benar adanya, aku mulai menerima atau merasakan seperti: “kok aku aneh ya”, “emm sepertinya aku mulai memasuki atau merasakan fase – fase tersebut kembali”, dan lain lain. Ya sisi positifnya, ini akan menjadi perjalanan yang baru, akan ada pelajaran yang bisa aku dapatkan, dan perlu disyukuri. Disisi lain, terkadang muncul pikiran keraguan akan diri ini apakah bisa? Apakah aku mampu melewatinya? Bagaimana jika tidak, next-nya harus apa? dan pertanyaan berikut – berikutnya.
Setelah aku mencoba untuk merenungi akan diriku ini, apakah karena aku kurang untuk mencintai diriku sendiri? Apakah aku terlalu sering berkata Ya, padahal sudah ada signal bahwa aku sedang dalam kondisi yang kurang optimal dan aku mengabaikan signal tersebut? Apakah aku terlalu memaksakan diri yang harus sesuai dengan plan yang sudah aku rancang, padahal mungkin saja belum bisa sesuai kenyataan? Dan apa yang bisa aku lakukan supaya aku bisa mengurangi perasaan keraguan diri?
Hasil perenunganku hingga saat ini adalah kurangnya Self-Love. Menurutku, rasa happy dan bersyukur adalah bagian dari self-love sendiri. Self-love menurutku sebuah perasaan bahwa diri ini lebih berharga dan layak untuk mendapatkan rasa bahagia lebih banyak dibandingkan orang lain, membuat diri ini merasakan kenyamanan dan keamanan. Memang tidak mudah untuk mewujudkan sesuai dengan ekspektasi bukan? Namun, aku mau mencoba untuk meningkatkan self-love itu sendiri dan mencari hal – hal yang bisa membuat diriku lebih bahagia secara bertahap dan pasti.
Kemudian, salah satu caraku meningkatkan self-love sendiri adalah dengan mengurangi durasi penggunaan social media, seperti: Instagram. Dari hasil eksperimenku beberapa bulan ini dengan menggunakan social media yang berlebihan (sekitar 1 – 2 jam setiap hari), dibawah alam sadar muncul perasaan membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Saat perasaan ini muncul, memberikan tekanan yang lebih untuk diriku untuk bisa seperti mereka yang aku lihat. Padahal, diriku dan dirimu pun memiliki pencapaian yang bagus juga kan dan mempunyai path nya masing – masing. Mungkin merasa lebih termotivasi masih sah – sah saja dan memberikan dampak positif. Namun, jika sampai terlalu memaksakan diri, memberikan beban harus seperti mereka, menurutku ini yang harus mulai rem pelan – pelan.
Yang ini adalah sepenggal ceritaku untuk post hari ini. Mungkin yang merasakan hal yang sama atau mirip sama aku, yuk kita sama – sama berjuang untuk meningkatkan Self-Love kita masing – masing. Dirimu dan diriku sama – sama layak untuk dicintai, dibahagiakan lebih dibandingkan dengan yang lain oleh diri kita sendiri. It’s okay untuk pelan – pelan dan pasti bisa!
Terima kasih sudah mau membaca post aku 🙂









