Masa SMA kata orang – orang adalah masa yang paling indah, masa kita mulai mengenal suka dengan lawan jenis, masa pubertas yang mencari jati diri, masa eksplor yang membuat kita penasaran, dan mulai masuk ke tahap awal kehidupan yang sebenarnya. Hal ini aku juga alami saat SMA dari tahun 2013 sampai 2016. Aku mengenyam pendidikan SMA di SMA Santo Yosef, Pangkalpinang. Sekolah tersebut berjarak 77 km dengan jarak tempuh sekitar 2 jam dari desaku. Ini adalah salahsatu keputusan besar yang pernah aku ambil saat itu. Karna setelah lulus SMP, aku harus merantau jauh dari orangtua, walaupun masih 1 pulau. Aku bersyukur mengambil keputusan tersebut menjadi salahsatu perjalanan Riyanti dan mengubah cara pandangku saat ini. Bisa dikatakan dulu aku adalah orang yang introvert, bicara seperlunya dengan orang lain bahkan kepada sahabat aku sendiri, dan orang didesaku hanya tau Riyanti adalah anak yang sangat jarang keluar rumah. Yah untuk statement ini aku akui bener karena aku tidak tau atau cenderung lupa nama – nama orang yang lebih tua tinggal didesaku, yang aku ingat hanya temen – temen yang satu bus denganku yang pulang dan pergi sekolah bersama. Bahkan, aku tidak tau nama orangtua mereka, padahal masih 1 desa.
Saat SMP aku merasa aku adalah anak yang sedikit membangkang, aku merasa disaat itu aku sering membantah perkataan orang tua, lebih mudah emosi, dan ini aku baru tau saat dewasa bahwa saat SMP aku sedang ada perubahan hormon atau lebih familiar dengan masa pubertas. Tidak dipungkiri ada sedikit pengaruh dari perubahan hormon ini yang membuat aku memutuskan untuk memilih sekolah di Pangkalpinang dengan rasa egois bahwa aku mampu bersekolah dengan kondisi jauh dari orangtua. Disisi lain ada kesempatan yang baik saat itu bahwa aku bisa mendapatkan potongan biaya masuk beberapa persen disekolah tersebut dan review yang baik dari beberapa saudara, kenalan teman yang bersekolah disana. Setidaknya hal ini dapat menjadi pendukung lebih untuk orangtuaku merestui keputusanku.
Hal ini belum berhenti karena berkaitan dengan tempat tinggal, saat itu kurang memungkinkan untuk aku pulang pergi setiap hari ke sekolah Pangkalpinang karena jarak, waktu, dan transportasi kesana. Terdapat 2 pilihan, yaitu: kost dan asrama. Dari awal aku memutuskan untuk bersekolah di Pangkalpinang, aku memilih untuk tinggal di asrama dibandingkan kost. Namun, pikiran orangtuaku saat itu bahwa kost lebih fleksible untuk mereka berkunjung, aku bisa tidur sendiri dibandingkan asrama. Karena asrama memiliki aturan yang cukup ketat dan masih memungkinkan untuk orang tua datang, hanya ada batasan tertentu. Disisi lain menurutku asrama bisa memberikan aku ruang untuk belajar banyak hal khususnya mandiri, bisa kenal dan berteman dengan banyak orang dari berbagai daerah, bisa untuk bertukar pikiran dan diskusi, makan, dan jarak pergi ke sekolah. Untuk makan, asrama sudah menyediakan 3 kali sehari yaitu sarapan, makan siang, dan makan malam, sehingga aku tidak terlalu pusing untuk memikirkan makananku. Dan biaya yang perlu dibayar setiap bulan menurutku masih terjangkau karena sudah include semua dari tempat tinggal, listrik, sampai makan. Yang perlu aku ikuti hanya tata cara, aturan asrama, dan jadwal. Menurutku ini masih okay untuk aku jalani.
Singkat cerita setelah melakukan registrasi siswa baru di SMA Santo Yosef, pertama kali orangtuaku mengajak aku survey ke kost saudaraku dengan harapan aku berubah pikiran. Namun, ternyata tidak sesuai dengan harapan orangtuaku, aku tetap memilih untuk tinggal di asrama. Malamnya kita pergi ke asrama bersama dengan saudaraku yang pernah tinggal di asrama, disana kita bertemu dengan Suster Clementine (Pembina Asrama) dan Romo Franky (Pembina Asrama), dan kak Ida (Juru Masak Asrama). Bersyukur sekali saat survey ini memberikan pandangan yang baik dan kepercayaan orangtuaku untuk aku tinggal selama SMA 3 tahun disana. Asrama yang aku pilih adalah Asrama St. Theresia, yang aku tau asrama tersebut adalah satu – satunya asrama Katolik yang ada di Pangkalpinang. Jarak asrama dengan sekolah pun sangat dekat kurang dari 200 m atau sekitar 3 menit jalan kaki. Asrama ini terdiri dari 3 gedung dan gedung terpisah antara gedung laki – laki dan perempuan.
Perjalanan Riyanti selama SMA pun dimulai, masih ingat dengan jelas satu hari sebelum ajaran sekolah dimulai, aku dan anak baru lainnya sibuk memindahkan barang bawaan kita ke kamar yang sudah ditentukan oleh Suster dan Romo. Ini adalah hari yang paling excited sekaligus deg – degan karena senang akhirnya Riyanti keluar dari zona nyaman, bertemu dengan banyak teman dari berbagai daerah, dan akan satu kamar dengan teman yang baru aku kenal. Yah ini cukup hectic dan kikkuk karna masih di lingkungan baru, menata barang – barang yang dibawa, dan masih banyak lagi. Tapi, setidaknya 1 langkah sudah aku pijak dan masih ada langkah – langkah berikutnya yang aku belum tau dan bagaimana.
Tiba saatnya makan malam jam 6 malam dan ini ada bunyi lonceng yang dibunyikan oleh Ketua Asrama (anak asrama yang diberikan tanggungjawab) menggunakan palu ke bekas kerangka besi ban mobil. Di asrama, setiap anak memiliki piring dan gelas mereka masing – masing sesuai dengan nomor yang mereka ambil saat masuk asrama. Jadi, piring dan gelas sudah dinomorkan dan kita tidak bisa menggunakan piring dan gelas orang lain dengan sembarangan. Dan sebelum makan malam, sudah ada petugas piket (anak asrama yang ditugaskan sore itu untuk masak dan menyiapkan keperluan saat makan malam) yang menata piring di atas meja secara random dengan posisi tertutup (dibawah piring sudah ada nomor). Jadi, nanti anak asrama lain akan saling mencari piringnya masing – masing dan duduk sesuai piring tersebut berada.
Kembali lagi karna ini malam pertama diasrama dimana aku belum tau nomor piring dan gelasku, akhirnya aku memilih nomor yang aku suka, kebetulan nomor tersebut belum dimiliki oleh orang lain. Ini pertama kalinya aku makan bersama dengan Suster, Romo, dan 43 anak asrama dan seterusnya hingga aku lulus SMA. Saat kita makan secara tidak langsung kita diajarkan menggunakan sendok dan garpu setiap makan, tata krama saat makan, dan setelah makan kita bisa saling ngobrol dengan teman – teman yang satu meja dengan kita. Setelah semua selesai makan, ditutup doa penutup, kita harus memasukkan kursi kita masing – masing ke posisi semula untuk memudahkan petugas cuci piring (beberapa anak asrama yang sudah dijadwalkan untuk menyuci piring dan gelas). Hal – hal seperti ini yang sangat aku rindukan hingga saat ini.
Diatas adalah foto yang diambil setiap tahun ajaran baru, sebelum kita berangkat sekolah dipagi hari. Aku dan teman seangkatan yang masuk bareng adalah angkatan ke – 36 di Asrama St. Theresia. Di foto tersebut ada beberapa teman yang seperjuangan memilih bertahan selama 3 tahun dan ada yang keluar dari asrama ditengah period dengan keputusan mereka masing – masing. Hal ini dapat terjadi disiapa saja dan angkatan berapa saja. Tapi, yang aku percaya hingga saat ini adalah mereka teman yang baik, teman yang selalu ada karena kita hidup bersama dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan kita semua memiliki pertimbangan dan keputusan masing – masing sesuai dengan kondisi kita dan tidak dapat disamarakan dengan lainnya. Oh ya ada juga teman yang masuk ditengah period ke asrama, ini memberikan teman dan warna yang baru.
Di asrama membantu aku untuk cukup mandiri, belajar menghargai orang lain, belajar untuk menjaga emosi, belajar masak walaupun sampai sekarang masakanku juga cenderung hambar, belajar untuk bergantung pada diri sendiri dan percaya pada – Nya. Ini menurutku cukup penting dalam aku menjalani kehidupan saat ini. Menurutku dengan aku bergantung dengan diri sendiri dan percaya pada-Nya, membuat aku tau dan percaya dengan kemampuanku sendiri, aku bisa berjalan untuk mencapai impianku dengan mayoritas usahaku sendiri, saat jatuh aku bisa bangkit dan percaya bahwa aku bisa. Namun, tidak aku pungkiri bahwa ada orang – orang baik sekitarku dan alam yang turut ambiil andil dalam setiap perjalananku dan mendukung aku saat ini.
Sedikit flashback sewaktu di asrama kita pernah dimasa sulit air karna mesin tangki yang rusak dalam beberapa minggu. Ini menurutku salahsatu masa sulit saat di asrama. Hahaha. Karena aku sudah rutin untuk cuci baju setiap 2 – 3 hari sekali dan aku typical yang tidak suka laundry karena parfumnya yang menyengat. Di asrama kita harus mencuci baju kita masing – masing dan tanpa mesin cuci. Saat kejadian itu, Suster memberikan kebijakan untuk kita dapat menggunakan laundry selama mesin tangki diperbaiki. Dan keputusanku, aku memilih untuk berjalan dari gedung ke biara suster dengan jarak 100 meter dan sebaliknya untuk menyuci baju dan seragam sekolah dengan tangan. Awal yang aku rasakan ini cukup berat apalagi saat dari biara ke gedung karena mengangkut ember yang berisi baju yang masih setengah basah untuk dijemur. Namun, melewati beberapa hari, hal ini menjadi hal yang biasa dan sudah menjadi rutinitas. Dan sebagai tambahan informasi, ini aku bergantian dengan temenku yang juga memilih cuci baju di biara. Jadi, kita antri dan take tempat setelah dia selesai, dia akan memanggil ku untuk selanjutnya. Untuk sistem antri dan take tempat, sudah kita lakukan secara rutinitas di dalam gedung saat mandi, saat cuci baju, dan setrika seragam. Untuk cerita seru lainnya selama di asrama akan aku lanjutkan di part berikutnya.
“Andalkan dirimu dan percaya pada dirimu bahwa kamu mampu dan bisa untuk menjalani kehidupan ini dengan baik. Dan tidak lupa untuk percaya pada – Nya disetiap langkahmu”
~ Riyanti Teresa Tedja ~









