Aku lahir dan besar di sebuah desa kecil di pulau Bangka. Desa yang indah pemandangannya, langit yang biru, udara yang bersih, lingkungan yang bisa dibilang cukup baik, dan jauh dari hiruk pikuk kota. Aku merasa bersyukur bisa tumbuh besar di desa kecil ini yang penuh kenangan yang masih teringat dengan jelas sampai saat ini. Dari desa kecil ini bersama dengan keluarga aku belajar banyak hal dalam menjalani hidup yang bisa aku sebut sederhana. Sederhana yang aku maksud dalam hal ini adalah hidup dengan menjalani saat ini, tanpa harus menuntut diri agar setara dengan orang lain yang mungkin saat itu kondisi diluar keterbatasan diri atau tidak sesuai dengan diri aku sebenarnya, salahsatu hal yang membuat ini sederhana adalah transportasi untuk ke sekolah.
Masih teringat dengan jelas, saat aku masih TK sampai dengan SMP, aku bersekolah di sebuah kota dengan jarak tempuh kurang lebih 20 km (sekitar 1 jam) dari rumah. Untuk bersekolah di kota tersebut, salahsatunya menggunakan bus kayu (yang biasa disebut bus Powis). Aku naik bus kayu tersebut saat TK (2002) sampai kelas 4 SD (sekitar 2008), sebelum digantikan dengan bus yang mirip dengan Kopaja. Setiap hari pergi ke sekolah dan pulang sekolah, kami anak desa akan menggunakan bus kayu ini sebagai transportasi. Untuk pelajar dari desaku beragam, dimulai dari TK, SD, SMP, SMA sampai SMK. Setelah aku mengingat kembali terasa lucu dan seru juga saat naik bus kayu yang sekarang dapat dikatakan bus antik. Hal ini lucu karna suara busnya, design kursinya, kerangka luar bus dan kursi dari kayu, mekanisme buka pintu yang masih tradisional, jendela dengan kerangka kayu dan pelapisnya seperti dari plastik mika yang kaku(aku kurang tau nama bahannya).
Untuk tutup jendela juga unik karna kita naikin jendela dengan menyangkutkan ke batasan kayu yang dibawah supaya gak jatuh. Kalau sangkutannya gak pakem dan bus sedang ada goyangan, jendelanya otomatis turun dan terdengar bunyi kayu yang bertabrakan dibawah dan saat hujan tiba, air akan masuk dari sela – sela jendela. Semua kenangan yang aku rasakan saat naik bus ini dan perjalanan ke sekolah adalah hal yang menyenangkan. Ini adalah gambar bus kayu yang aku ceritakan yaitu bus kayu (bus Powis).
Dulu di desaku, beberapa bus di-manage oleh beberapa orang untuk mengantar orang – orang desa ke kota, dimulai dari pelajar sampai pedagang. Untuk pelajar karna kita ke sekolah setiap hari (Senin sampai Sabtu), maka kita bayarnya setiap bulan dengan nomimal tertentu per orang, biaya ini sudah termasuk antar – jemput. Kemudian, driver-nya juga kenal dan hapal semua pelajar yang menggunakan bus tersebut. Saat pagi, beliau akan mengelilingi dan menjemput pelajar di depan rumah mereka masing – masing dengan bus. Ini aku pernah rasakan untuk ikut jemput teman – teman dan sangat seru karena aku bisa tau rumah mereka masing – masing dan bisa say “hello” di pagi sekalian jalan – jalan. Sepengalaman aku, bus akan mulai jalan jam 5.30 pagi untuk jemput pelajar dimulai dari rumahnya yang paling jauh.
Pas pulang, driver akan memastikan semua pelajar dari desa sudah masuk ke dalam bus untuk pulang ke rumah, kecuali ada info dari teman atau dirinya langsung ke driver bahwa dihari tersebut akan pulang sendiri. Di dalam bus ini, kita semua tau siapa aja yang ikut, jadi kalau ada yang belum di bus saat jam pulang sekolah, maka teman terdekat atau kita semua akan reminder satu sama lain. Jika tidak ada info dari dirinya, kita akan tunggu sampai dia datang atau kita menghampiri kelasnya atau tanya temen kelasnya terkait keberadaan dirinya (karena saat itu belum ada handphone atau handphone belum menjangkau desa kami), jadi carinya masih manual. Kemudian, driver akan menurunkan satu per satu pelajar ke depan rumah kita masing – masing seperti semula.
Untuk posisi duduk sudah dibagi dimana bagian depan diisi oleh wanita dan bagian belakang diisi oleh pria. Jika dihari tersebut terdapat penumpang tambahan dan kursi sudah tidak cukup, ada beberapa kita akan saling pangku memangku sepanjang jalan. Kemudian, menurutku posisi duduk yang paling nyaman adalah di baris ketiga dekat dengan pintu. Karena diposisi duduk ini, kita bisa lebih banyak mendapatkan udara dari 3 jendela sekaligus, pemandangannya lebih luas, dan paling menyenangkan adalah saat membuka pintu untuk teman -teman yang akan naik atau turun bus. Menyenangkan karena ada rasa satisfy saat mendorong toggle pintu ke depan (ini susah dijelaskan, harus dirasakan sendiri). Hanya di posisi duduk ini perlu lebih hati – hati, takut kejepit pintu.
Untuk jam pulang sekolah pun berbeda – beda, maka untuk pulang ke rumah, kita akan saling menunggu semua pelajar yang satu bus. Disaat itu, jam pulang sekolah SD sekitar jam 12 siang, SMP dan SMK sekitar jam 1 siang, sedangkan pelajar SMA pulang sekitar jam 2 siang, sehingga kita menunggu bersama. Karena saat itu handphone belum ada di desa jadi diisi dengan jajan (seperti: pop-ice, tekwan – makanan khas Bangka, es lilin, dan sebagainya) untuk mengisi perut kosong sambil bercengkrama dengan teman – teman lainnya dan driver di bawah pohon yang rindang. Kalau tunggu di dalam bus, ini amatlah panas dan gerah.
Ini adalah pengalamanku saat naik bus kayu (bus Powis) yang menjadi kenangan yang sangat indah dimasa aku sekolah. Kalau kalian pernah naik bus tersebut, boleh untuk berbagi cerita di kolom comment ya.
References:
- Ramadhaningtyas, Nur & Saputra, Evan. (October, 2022). Gratis, Begini Cara Wisata Keliling Kota Pangkalpinang Naik Mobil Pownis. Bangkapos.com. https://bangka.tribunnews.com/2022/10/30/gratis-begini-cara-wisata-keliling-kota-pangkalpinang-naik-mobil-pownis
- Tashandra, Nabilla. (October, 2022). Nostalgia Naik Mobil Pownis Gratis, Bisa ke Museum Timah Pangkalpinang. Kompas.com. https://travel.kompas.com/read/2022/10/31/170300227/nostalgia-naik-mobil-pownis-gratis-bisa-ke-museum-timah-pangkalpinang?page=all









