Diriku dan dirimu sama sama melewati perjalanan hidup, memiliki cerita, memiliki perasaan, memiliki pandangan, memiliki keinginan untuk bahagia sesuai dengan definisi masing – masing. Memiliki rasa ingin bahagia adalah rasa yang ingin dimiliki semua orang bukan? Dan rasa ini muncul saat kita mengalami kejadian yang sesuai dengan arti bahagia yang kita buat sendiri. Dan definisi bahagia setiap orang pun berbeda – beda, ada yang merasa bahagia saat bisnisnya lancar, menjadi juara kelas, mendapatkan beasiswa, project berjalan dengan lancar, dan lain – lain. Yups, semua ini bergantung perjalanan hidup, pandangan masing – masing dalam mengartikan rasa bahagia dan kondisi yang menentukan rasa tersebut. Satu cerita yang ingin aku ceritakan dalam blog ini adalah arti kebahagiaan itu sendiri.
Beberapa minggu kemarin tepatnya 18 Februari 2024, secara tidak langsung aku mendapatkan salahsatu jawaban atas pertanyaanku selama ini mengenai kebahagiaan dari seorang Ajahn (Bhante) yang bernama Ajahn Vajiro. Ini adalah pertama kali aku bertemu dengan Ajahn di salah satu Vihara yang aku kunjungi. Ajahn Vajiro sangat murah senyum dan pada hari tersebut Ajahn menceritakan mengenai “Kebahagiaan atau Happiness“. Sedikit rangkuman yang ingin aku ceritakan kembali dari ceramah Ajahn Vajiro adalah kebahagiaan tersebut berasal dari diri kita sendiri, bukan orang lain. Diri ini yang sudah menemani 24 jam setiap hari tanpa henti, yang kerapa kali kita lupa untuk memperhatikannya. Diri inilah sumber kebahagiaan itu sendiri.
Salahsatu point yang bisa aku ceritakan dalam ceramah Ajahn adalah kebahagian kita adalah tanggungjawab diri kita sendiri dan bukan tanggungjawab kita untuk membahagiakan oranglain. Akan terasa tidak adil jika orang lain menuntut atau mengharapkan kita untuk membuat diri mereka bahagia. Didalam ajaran Buddha terdapat 4 pilar pada Brahmavihara atau keadaan bathin luhur yaitu Metta (Cinta Kasih), Karuna (Welas Asih atau Kasih Sayang), Mudita (Turut Berbahagia atau Sukacita Simpatik) , dan Uppeka (Keseimbangan Bathin).
1. Metta (Cinta Kasih):
Metta merupakan sebuah ungkapan yang alami dari hati atau bathin yang terbebas dari ketidaktahuan. Hal ini bersifat otomatis dan menjadi best location pada Dewata berdiam. Sebuah kondisi yang dibangun dimana hati atau bathin menerima semua kejadian apapun yang terjadi, tanpa adanya penolakan. Saat metta ini dibangun, hati ini merasa “oh iya aku menyukai ini” dan menerima semuanya apa adanya saya.
Metta tersebut sering diceritakan seperti seorang ibu yang mencintai anaknya. Jika seorang ibu tidak memiliki rasa ini (metta), maka beliau tidak akan menjaga anak – anaknya dengan baik. Diceritakan baby yang baru lahir memiliki kondisi tidak bisa apa – apa, memiliki kondisi yang masih belum terlalu kuat, dan lain – lain . Namun, saat baby bertemu dengan ibunya, baby tersebut akan merasa aman, tidak merasa akan tersakiti. Ini adalah pengalaman dari metta.
Dalam pengembangan dan memberikan metta ini paling penting adalah kepada diri kita yang 24 jam setiap hari tanpa henti terus bersama kita. Dan diri ini yang sering kita lupakan. Seberapa sering kita merasa “Oh aku tidak suka dengan penampilan”, “Aku tidak suka dengan perbuatan saya”? Ketika kita sedang berkaca, kita lebih melihat kekurangan – kekurangan tersebut. Dan metta adalah tempat yang terbaik untuk kita renungi dan tinggal untuk menjalani hidup yang bahagia untuk diri kita. Tidak ada orang lain yang berhak mendapatkan metta yang lebih besar daripada diri sendiri. Ini tentu bukan berarti bersifat untuk diri bersenang – senang, karena selanjutnya adalah Karuna.
2. Karuna (Welas Asih atau Kasih Sayang):
Karuna merupakan melakukan sebuah perbuatan yang dapat mengakibatkan berkurangnya penderitaan dimasa sekarang atau masa depan. Orang yang paling penting untuk kita berikan karuna ini adalah diri kita sendiri yang bersama selama 24 jam setiap hari. Mengapa?
Cara kerja karuna adalah saat kita sedang berusaha untuk membebaskan diri atau orang lain dari penderitaan di masa sekarang dan masa depan. Contoh dari Buddha Gautama adalah terdapat landasan atau stuktur yang terbagi menjadi 3 bagian, yaitu: stuktur pikiran, struktur ucapan, dan stuktur perbuatan. Dan hal ini salahsatunya terdapat dalam 5 sila yang diajarkan-Nya. Contoh dari karuna: saat kita bertemu dengan orang – orang yang ada potensi menyakiti diri kita atau dirinya sendiri, maka kita akan bersikap lebih waspada.
Dengan karuna, kita melihat diri sendiri penuh dengan cinta kasih. Kita menjaga diri kita agar bertindak sesuai dengan Dhamma, sehingga kita dapat mengurangi atau tidak menciptakan penderitaan yang baru dimasa sekarang dan masa depan. Hal ini adalah sesuatu yang indah dan juga mendukung kita agar dapat melakukan sesuatu dengan baik. Kita melakukan sesuatu yang baik, maka akan membawa suatu perasaan yang sangat lega, sangat senang sekali, sehingga dapat bernafas dengan lega.
3. Mudita (Turut Berbahagia atau Sukacita Simpatik):
Contoh mudita: saat kita merasa “wow ini sangat menyenangkan” sehingga memberikan atau menginspirasi bahwa kita bisa melakukan hal yang baik seperti itu juga atau rasa mudita. Kita menyadari atau kesadaran akan hal baik itu, seperti: mengamati hal yang baik tersebut, menemukan atau melihat segala sesuatu yang baik tersebut menjadi sebuah blessing atau keberkahan, sehingga membangkitkan semangat kita untuk melihat – melihat hal yang baik yang tidak menyebabkan munculnya penderitaan yang baru.
4. Uppeka (Keseimbangan Bathin):
Dengan kita mengamati ketiga hal tersebut (Metta, Karuna, Mudita) dengan seksama, hal ini yang disebut uppeka. Uppeka adalah suatu kapasitas dimana kita bisa menjadi tetap tenang dalam berbagai kondisi, kita tetap sensitif dan merasakan. Rasa tetap, namun tidak terjebak disana dalam kondisi apapun yang terjadi, memiliki kemampuan untuk toleransi. Apapun yang terjadi, saat itu diri ini juga sadar akan pengalaman tersebut.
Kita dapat percaya dengan bathin kita dari ketidaktuahuan dengan mengamatinya. Ketika mengalami suatu pengalaman, dengan cara menerima pengalaman tersebut, bagaiman respon kita terhadap pengalaman tersebut, hal ini membuat kita menjadi tau apa yang sedang terjadi disana . Bathin yang bebas dari ketidaktahuan, maka ia tidak akan menolak atau tidak akan mendorong segala sesuatu yang datang. Jadi bathin mengerti bagaimana caranya memberikan respon yang secara alami dilakukan agar tidak merasakan penderitaan atau kesaktitan. Saat penderitaan atau kesakitan tersebut muncul menyebabkan kita merasa bodoh, kurang semangat, meluluhlantahkan kita karena kita ingin sekali keluar dari penderitaan tersebut.
Ini sedikit rangkuman yang aku dapatkan dari Ajahn Vajiro, semoga kita semua bisa merasakan kebahagiaan selalu.
Untuk lengkapnya dapat dilihat pada Yotube berikut ya









