Sering kali aku mendengar orang mengucapkan “tenang, semua akan baik – baik saja” dan memang aku akui kalimat tersebut adalah afirmasi positif yang membantu untuk berpikir lebih jernih dan hati menjadi lebih tenang. Namun, menurutku perlu adanya penyadaran diri bahwa kalimat “semua akan baik – baik saja” tidak hanya berhenti pada ucapan semata, tetapi perlu adanya upaya kita yang untuk mewujudkan kondisi bahwa semua itu akan baik – baik saja, seperti mengerjakan yang seharusnya selesai dalam waktu dekat dengan baik. Dan menurutku kalimat tersebut hanya menjadi afirmasi positif yang bersifat sementara dengan catatan kondisi yang dialami adalah kondisi yang masih dapat ditoleransikan dan memvalidasi keyakinan akan perasaan kita. Dan mungkin adanya rewards yang kita harapkan, jika bisa melewati kondisi tersebut.
Ada sebuah cerita pada beberapa tahun lalu, tepatnya sebelum pandemi COVID-19 melanda seluruh penjuru dunia, ada seorang rekan kerjaku mengatakan “semua akan baik – baik saja”. Kondisi aku saat itu adalah aku perlu menyelesaikan suatu pekerjaan dalam waktu dekat, hal yang aku rasakan pikiranku bingung atau sedang proses mencerna tugas apa yang perlu aku selesaikan duluan. Mungkin momen-nya sedang tepat saat mendengarkan ucapan rekan kerjaku, hingga aku mengulangi ucapan tersebut kira – kira seperti ini “Ok, Riyanti. Kerjakan semaksimal mungkin dan semua akan baik – baik saja”. Saat aku mengucapkan kalimat tersebut sebenarnya aku juga memvalidasi keyakinanku bahwa sebenarnya pekerjaan tersebut akan selesai pada waktunya, hanya saja ada perasaan takut, panik yang belum dapat dikendalikan. Saat mengucapkan kalimat tersebut sebenarnya juga memberikan ruang untuk diriku berpikir dengan lebih baik dalam beberapa detik.
Selesai aku mengucapkan kalimat tersebut, aku merasakan pikiranku menjadi lebih mudah untuk diajak kerjasama dan mencerna yang perlu dilakukan terlebih dahulu. Kalimat afirmasi “semua akan baik – baik saja”, aku terapkan pada beberapa moment, seperti: mengikuti ujian, perkiraan perjalanan ke tempat kerja akan telat. Memang tidak dapat dipungkiri, kalimat afirmasi tersebut kurang manjur diaku di beberapa momen yang lebih complex. Tapi, menurutku kalimat yang paling bisa menenangkan atau afirmasi positif yang paling kuat adalah saat berdoa kepada-Nya. Menurutku pribadi saat kita mengucapkan doa dari hal yang simple sampai dengan complex sekalipun, ini memberi ruang untuk kita sendiri untuk mengambil nafas sebentar dengan tenang, menceritakan hal – hal atau harapan yang tidak bisa kita ungkapkan kepada orang lain, sekalipun orang terdekat, dan tersimpan harapan – harapan kita dalam doa tersebut. Terkait relasi dengan-Nya, aku pun masih perlu banyak belajar dan masih jauh. Hal yang aku ceritakan hanyalah sebuah pengalaman yang pernah ku alami.
Terdapat sebuah penelitian secara science menguji sistem otak saat kita menyatakan afirmasi positif, penelitian tersebut berjudul “Self-Affirmation Activates Brain Systems Associated with Self-related Processing and Reward and is Reinforced by Future Orientation” dan penelitian tersebut dilakukan oleh Christopher N. Cascio, Matthew Brook O’Donnell, Francis J. Tinney, Matthew D. Lieberman, Shelley E. Taylor, Victor J. Strecher, dan Emily B. Falk. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sistem yang terkait dengan evaluasi positif yaitu otak bagian VS (Ventral Striatum) dan VMPFC (Ventral Medial Prefrontal Cortex) mempunyai peran yang penting dalam mewujudkan afirmasi yang sukses dan konsistent dengan perhitungan nilai yang diperluas mengapa intervensi self-affirmation bisa berhasil. VS dan VMPFC sendiri adalah daerah otak yang paling sering dikaitkan dengan harapan dan penerimaan hasil yang dinilai positif atau bermanfaat. Sistem ini mengkode tidak hanya hadiah utama (seperti: makanan), tetapi juga hadiah yang lebih abstrak sesuai dengan nilai – nilai yang berarti bagi dirinya dalam self-affirmation yang masuk ke pikiran.
Kemudian, pada penelitian tersebut juga menunjukkan afirmasi positif dapat memiliki efek yang sangat kuat dalam sistem penghargaan dikombinasikan dengan orientasi masa depan. Orientasi masa depan ini dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas dalam VMPFC yang dikaitkan dengan membayangkan peristiwa masa depan yang positif (bukan negatif). Hal ini meningkat saat kita mengharapkan atau membayang imbalan yang akan kita terima di masa depan. Dan juga konsisten dengan peran sistem penghargaan dalam membimbing pembelajaran perbaikan dan keputusan perilaku masa depan melalui penghitungan ‘nilai insentif dari tindakan perilakunya yang dipertimbangkan’.
Untuk penjelasan lebih lengkap, teman – teman bisa langsung membaca dari link penelitian berikut ya https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4814782/
Reference:
Cascio, Christopher N. dkk. (2016). Self-Affirmation Activates Brain Systems Associated with Self-related Processing and Reward and is Reinforced by Future Orientation. Social Cognitive and Affective Neuroscience, 2016 Apr; 11(4): 621–629. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4814782/









