Bersyukur adalah sebuah rasa, penerimaan akan hidup yang sedang kita jalani dengan rasa cukup akan semua yang dimiliki saat ini, yang dirasakan baik sedih atau senang, kecewa atau puas. Bersyukur ini bisa menjadi salah satu magic word bagi aku sebagai pengingat untuk kembali ke diri saat ini untuk menghargai setiap momen, apa yang sudah dimiliki saat ini, dan merasa cukup. Mungkin setiap perjalanan orang memiliki definisi “bersyukur” yang berbeda – beda. Tapi, hal yang bisa aku tarik benang merah sesuai dengan pemahamanku saat ini bahwa dengan segala jenis perjalanan hidup yang berbeda – beda, ucapan “bersyukur” ada relasi dengan doa yang kita sampaikan kepada Tuhan atau kepercayaan kita masing – masing. Hal ini didalam setiap doa selalu diawali dengan salam dan ucapan terima kasih kepada-Nya. Hal ini menunjukkan rasa bersyukur kita dalam kondisi apapun, baik sedang senang, melewati badai , namun masih ada rasa bersyukur yang disampaikan.
Mengingat kata bersyukur, dalam perjalanan aku terdapat satu momen yang mengingatkan aku kembali terkait rasa bersyukur akan apa yang sudah aku pertimbangkan, putuskan dengan sebaik mungkin diusia saat itu. Dan hingga saat ini pun aku tidak pernah menyesali akan keputusan yang sudah diambil. Hal ini terkait dengan pencarian kerja seorang fresh graduate. Di-moment tersebut aku merasa FOMO (Fear of Missing Out) akan pencapaian aku dan teman – temanku, dimana ada yang menjalani bisnis sendiri, bekerja di multi-company, melanjutkan pendidikan. Padahal, disaat itu aku juga mendapatkan pekerjaan yang baik, rekan kerja yang baik, lingkungan kerja yang baik, semuanya baik.
Karna merasa FOMO dan mungkin sedang proses adaptasi dipekerjaan baru saat itu, hal tersebut masih terlihat samar dimata dan pikiranku hingga akhirnya muncul banyak pertanyaan dikepalaku akan semua ke-FOMO-an ini. Sampai dimana aku mendapatkan saran dari orang yang aku percayai, beliau menyarankanku salahsatunya dengan take short vacation dalam waktu dekat sesuai dengan jadwalku. Dan saran ini lebih masuk atau sesuai kebutuhan ku saat itu. Beliau memberikan catatan untuk jangan berharap terlalu tinggi dengan short vacation tersebut karena tidak akan secepat itu kamu akan merasakan rasa lega seketika karna ini butuh proses. Setidaknya dengan short vacation, kamu ada waktu untuk melakukan hal – hal yang kamu suka, seperti baca buku, dll tanpa memikirkan hal apa pun. Nanti jika ada waktu atau hari libur yang lebih panjang, bisa dimaksimalkan untuk refreshing.
Singkat cerita dalam short vacation tersebut aku belajar untuk lebih mengenal diriku, apa yang aku suka, musik yang bisa bikin aku tenang, dan kuncinya adalah bersyukur. Setelah aku berpikir kembali, oh iya ya aku tuh gak kekurangan apa pun lho, yang aku impikan dari dulu memang sudah ada dan aku kerjakan saat ini, dan aku tidak perlu membandingan diriku dengan yang lain, karna setiap orang mempunyai perjalanan masing – masing yang kita tidak tau apa yang mereka hadapi. Jadi, hiduplah saat ini dengan dirimu saat ini dengan penuh rasa bersyukur di setiap momen.
Terkait FOMO atau Fear of Missing Out, ini sebenarnya apa sih? Mengutip dari TechTarget, FOMO adalah sebuah respon emosional kita yang mempercayai bahwa hidup orang lain lebih baik, hidup orang lain lebih memuaskan atau terdapat kesempatan penting yang hilang atau kita ketinggalan. Jenis respon emosional tersebut yang menimbulkan rasa ketidaknyamanan, ketidakpuasan akan hidup dirinya, atau parahnya bisa sampai dengan depresi atau stress. Perasaan yang muncul ini bisa muncul salahsatunya dari social media dan secara data menunjukkan FOMO banyak dialami oleh generasi milenial. Dari data menunjukkan hampir 7 dari 10 (69%) milenial mempunyai pengalaman FOMO dan terbanyak dibandingkan group umur lainnya. Tidak heran bahwa ini lebih ke generasi milenial ditambah dengan penggunaan social media yang tersedia 24 jam dan bisa diakses dimanapun dengan mudah. Orang lain atau kita sendiri pun tidak bisa dipungkiri untuk meng-upload post ke social media cenderung untuk memperlihatkan sisi bagus dalam hidup. Saat kita melihat post orang lain tanpa sadar kita akan sedikit menbandingkan diri kita dengan orang lain dan secara tidak sadar mengucapkan, seperti: “Enak ya hidupnya”, “Kok hidupnya gak ada beban ya”, dan lain – lain yang sangat beragam.
Dari pengalamanku saat mengalami FOMO atau pikiran sedang berkelana dan tidak baik – baik saja, cobalah untuk mengurangi durasi di social media atau istilah saat ini detox social media. Menurutku ini cukup membantu karna kita tidak perlu lihat story atau post orang lain dan cukup fokus ke diriku saat ini. Durasi social media dapat diganti dengan melakukan aktifitas yang kita suka, contohnya nyanyi (walaupun suara dan nada pas – pasan, it’s okay selama kamu merasa nyaman dan tidak mengganggu orang lain), menggambar, membuat jurnal, membaca buku, olahraga, dan sebagainya. Dan tidak lupa untuk mengucapkan rasa bersyukur yang kita terima saat ini. Rasa bersyukur pun dapat kita tuliskan dalam jurnal kita setiap hari dengan membuat list 10 rasa bersyukur kita, hal yang sepele pun ditulis juga tidak apa – apa. Ini membantuku dalam menghadapi ke-FOMO-an atau pikiran saat sedang kurang baik.
Semoga dengan sedikit cerita pengalamanku bisa membantu atau menjadi referensi teman – teman yang mungkin sedang difase tersebut. Dan jika teman – teman pernah mengalami fase tersebut, boleh sharing juga ya 🙂
Bersyukur akan apa yang dijalani, dimiliki saat ini. Jika ada yang membuat kamu sedang down, ayo bangkit dan melangkah lagi dengan tegap. Semua akan ada jalan dan semua akan baik – baik saja
~ Riyanti Teresa Tedja ~
References:
- Brush, Kate. (July, 2019). FOMO (Fear of Missing Out). TechTarget. https://www.techtarget.com/whatis/definition/FOMO-fear-of-missing-out
- Hott, Allison. (January 5th, 2024). 25+ Powerful FOMO Statistics to Skyrocket Sales (2024). https://optinmonster.com/fomo-statistics/#:~:text=Nearly%207%20in%2010%20(69,those%20in%20other%20age%20groups.









